Start Up Algist ( Alarm Gas Medis ) Raih Hibah Rp. 754 Juta dari Kemenristek Dikti

image Yanuar Anaba

Startup Algist yang beranggota Hasyim Abdulloh (Teknik Elektro, Angkatan 2014), Muhammad Fanriadho (Alumni Teknik Elektro, Angakatan 2012) dan Gilang Putra Pradana (Alumni Manajemen, Angkatan 2012) Sukses meraih hibah pendanaan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia melalui program Perusahaan Pemula Berbasi Teknologi (PPBT) tahun 2018 dan 2019.

Ide inovasi ini bermula ketika produk Alarm Gas Medis di pasaran Indonesia didominasi oleh produk Impor. Pertemuan diawali pada bulan Juni 2017, Gilang selaku inisiator menggandeng Fanriadho yang berlatar belakang dari Prodi Teknik Elektro dan Hayim yang mempunyai pengalamanan pada divisi manajemen Tim Mobil Listrik UII.

Proses riset Alarm Gas Medis mereka memakan waktu satu tahun dengan biaya riset kurang lebih 20 juta rupiah. 

Pada bulan September, Hasyim mendapat Info terkait adanya program PPBT dari Ristek Dikti dan diputuskan untuk mengikuti program ini. Tahapan panjang mereka lalui dari membuat proposal, seleksi presentasi di Jakarta, hingga tinjauan langsung ke UII terkait pengecekan data. Dan pada akhirnya di tahun 2018 Startup Algist berhasil mendapat pendanaan sebesar 425 juta rupiah dan pada tahun 2019 mendapat pendanaan sebesar 329 juta rupiah.

Saat ini Startup ALGIST masih menjalani program PPBT dengan Inkubator IBISMA UII. produk Alarm Gas Medis Digital sampai saat ini sudah terjual sebanyak 90 unit dan sudah tersebar di berbagai Rumah Sakit Indonesia.

Kedepan Startup ALGIST berencana untuk membuat produk-produk terkait pendukung Instalasi Gas Medis di Indonesia. Banyak harapan semua rumah sakit di Indonesia mau mengedepankan pemakaian produk lokal yang mendukung kemajuan teknologi Indonesia.